Tidak Ada Keadilan Jender Tanpa Kebebasan Berpikir! *Perspektif Gerakan Perempuan Islam

Dominasi pemikiran Islam patriarkhal telah mendomestifikasi (mayoritas) perempuan Muslim dan meminggirkan mereka dari tradisi dan dinamika pemikiran Islam. Salah satu contohnya berkaitan dengan khatib Jum’at dan imam shalat. Karena fiqh klasik tidak membolehkan perempuan jadi khatib Jum’at atau imam shalat (bagi makmum laki-laki), kaum perempuan tidak bersemangat lagi untuk mengembangkan keilmuan Islam mereka hingga memenuhi syarat menjadi khatib atau imam shalat. Mereka kehilangan motivasi untuk mendatangi majlis-majlis keilmuan demi meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan agama mereka. Ketika mereka semakin tidak berdaya dan termarjinal dalam pergulatan pemikiran tersebut, para pemikir patriarkhal justru menjadikannya sebagai alasan untuk semakin mendiskriminasi dan mensubordinasi mereka.

Jelaslah bahwa keterbelakangan perempuan dalam dinamika pemikiran Islam adalah konstruksi para pemikir patriarkhal yang berlangsung lama dalam sejarah peradaban Islam. Karenanya kita bisa memahami mengapa kita jarang mendapati pemikir Islam perempuan. Dan, hingga kini pengaruh marjinalisasi tersebut masih kuat: banyak perempuan Islam yang kehilangan motivasi belajar agar bisa memperoleh lisensi sebagai khatib Jum’at, imam shalat, atau faqih dan lebih suka tinggal di rumah menekuni dunia domestik atas nama ketaatan terhadap suami.

Marjinalisasi perempuan dalam dinamika pemikiran Islam juga semakin melanggengkan pemikiran Islam bias jender yang terpelihara dalam kitab-kitab klasik yang dipenuhi patriarkhisme. Seandainya saja, pergulatan pemikiran Islam itu mengakomodasi pemikir-pemikir perempuan, pandangan Islam bias jender akan mendapatkan perlawanan dari para pemikir Islam perempuan itu. Lebih dari itu, keterlibatan pemikir perempuan dalam pergulatan pemikiran Islam akan sangat inspirasional bagi perempuan Islam lainnya dalam proses dialektika pemikiran Islam selanjutnya. Inilah salah satu akibat buruk pengekangan pemikiran dalam pergulatan pemikiran Islam.

Melihat kenyataan di atas, sangat penting untuk menyinergikan upaya keadilan jender dengan upaya penguatan tradisi kebebasan berpikir. Program pemberdayaan perempuan harus bisa mendorong berkembangnya tradisi kebebasan berpikir itu. Kebebasan berpikir sendiri diartikan sebagai proses pergulatan pemikiran, upaya rasionalisasi, terus menerus yang didasarkan pada kekuatan argumentasi. Kebebasan berpikir tidak terbatas sejauh memiliki kekuatan argumentasi dan tidak melanggar kemanusiaan. Dalam tradisi kebebasan berpikir, kita akan berani menerobos dominasi pemikiran Islam bias jender, merevisi dan menafsirkannya kembali agar lebih sensitif terhadap perempuan. Dalam tradisi itu pula, kita tidak akan membatasi berkembangnya pemikiran-pemikiran baru dan tidak menuduhnya “akan mengobrak abrik ajaran Islam”. Tradisi kebebasan berpikir menandakan penolakan kita untuk tunduk secara absolut terhadap belenggu suatu pemikiran, sebagai tanda keberdayaan.

Tradisi kebebasan berpikir juga akan menghadirkan sikap penghargaan terhadap pluralisme dan antikekerasan, yang juga sangat penting bagi pelaksanaan program pemberdayaan perempuan. Kebebasan berpikir sebagai proses penyusunan pemikiran argumentatif memercayai adanya pemikiran-pemikiran lain yang beragam dan melarang pengebirian atas pluralitas pemikiran tersebut sejauh tidak melanggar kemanusiaan. Kebebasan berpikir yang mengandalkan proses pemikiran rasional juga menghindarkan pelakunya dari penggunaan kekerasan.

Charles Kurzman (Liberal Islam: A Sourcebook, 1998 ) menyejajarkan agenda penghormatan hak-hak perempuan dengan agenda penghargaan terhadap kebebasan berpikir. Analisa Kurzman semakin jelas menegaskan sinergi upaya penegakan keadilan jender (dalam konteks Islam) dengan penghargaan kebebasan berpikir. Tanpa penghargaan terhadap kebebasan berpikir, kita kesulitan mengakomodasi sensitifitas kita terhadap persoalan-persoalan perempuan kontekstual atas dasar ajaran Islam.

Analisa Kurzman juga menegaskan bahwa upaya penegakan keadilan jender menjadi bagian penting dari proses emansipasi ketertindasan manusia oleh suatu pemikiran keagamaan yang mengungkung dan absolutis. Apalagi pemikiran tersebut telah menginspirasi terjadinya berbagai kekerasan, khususnya kekerasan terhadap perempuan. Dengan demikian, hampir mustahil kita bisa menghadirkan keadilan jender dalam konteks Islam dengan mengabaikan upaya-upaya untuk kebebasan berpikir ke arah terbentuknya pemikiran Islam baru yang lebih sensitif terhadap perempuan.

Atas dasar pemikiran di atas, kita tentu tidak bisa berharap munculnya pemikiran Islam sensitif jender dalam cara pandang konservatisme yang tidak mendukung tradisi kebebasan berpikir, karena mereka merupakan bagian dari kelompok status quo yang melanggengkan pemikiran Islam bias jender. Karena itu pula, kita bisa mengkritisi retorika pemberdayaan perempuan dari kalangan Islam konservatif sebagai program yang sebenarnya jauh dari penegakan hak-hak perempuan. Contoh paling gamblang adalah dukungan atas praktek poligami yang menurut mereka dilandasi tujuan pemberdayaan perempuan meski pada prakteknya justru menghadirkan ketidakadilan dan kekerasan terhadap perempuan, karena mereka lebih percaya dan tunduk pada pemikiran Islam klasik yang permisif terhadap praktek poligami tersebut.

Akhirnya, penegakan hak-hak perempuan tidak cukup hanya pada tahap kasat mata yang simbolikal dan tidak menyentuh dimensi substansial; penegakan hak-hak perempuan harus dilandasi sebuah perspektif emansipasi atau kemerdekaan dari sebuah bentuk dominasi. Pada “gerakan” kebebasan berfikir itulah, kita bisa membangun upaya penegakan hak-hak perempuan yang substansial itu. Wallahu’alam. (Diah Irawaty)

http://www.komnasperempuan.or.id/2010/03/ada-keadilan-jender-tanpa-kebebasan-berpikir-perspektif-gerakan-perempuan-islam/

Pos ini dipublikasikan di News / Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s