HIV-AIDS Masalah bersama

1

Data Departemen Kesehatan RI menunjukan bahwa kumulatif kasus AIDS di Indonesia  hingga Juni 2009 mencapai 17.699 kasus, hal ini terungkap dalam acara Training Fasilitator “Saluran Harapan” dalam merespon pandemi HIV AIDS di Indonesia, yang diadakan oleh Word Vision Indonesia (WVI) di Hotel Dharma Wulan Sentul City Bogor belum lama ini.

Kegiatan yang dilaksanakan selama sembilan hari sejak Senin 19 Oktober s.d. Selasa 27 Oktober 2009 ini diikuti oleh para Tokoh Agama dan Aktivis LSM pemerhati HAIV AIDS dari berbagai daerah di Indonesia. Ikut dalam acara ini Direktur Lembaga Penelitian Sosial dan Agama (LENSA) Sukabumi, Daden Sukendar, yang pada saat tersebut diundang oleh WVI dalam kapasitas sebagai salah satu Tokoh Agama Islam. “HIV AIDS merupakan masalah bersama, jadi harus dihadapi bersama” ungkap Daden dalam sebuah diskusi. “Kita tidak bisa memandang orang yang hidup dengan HIV positif hanya dari satu sudut pandang saja, rasanya tidak arif jika kita men-generalisir orang-orang yang hidup dengan HIV Positif dengan menuduh bahwa orang-orang itu telah melakukan perbuatan dosa sehingga mendapat adzab dari Allah, meski kita pun tidak bisa menutup mata bahwa yang disebabkan dengan hal itu pun ada. Karena dalam realitanya, ternyata tidak semua orang yang hidup dengan HIV positif dilatar belakangi oleh prilaku resiko tinggi (melakukan hubungan sex diluar nikah/berzina),  ada juga orang-orang yang hidup dengan prilaku yang baik namun terinveksi HIV bahkan AIDS”. Tambahnya panjang lebar.

2

Training “Saluran Harapan” secara umum dilaksanakan dengan tujuan untuk memobilisasi dan mendampingi umat beriman terutama para Agamawan untuk memiliki sikap, pengetahuan dan keterampilan yang sesuai untuk dapat mengalahkan stigma dan menyediakan perawatan serta pencegahan dalam masyarakat dan lingkungannya.

Kegiatan ini pun menghadirkan para trainer dari berbagai negara seperti Syeikh Hasan Kinyua Omari (Kenya), Dr. Christo Greyling (USA), dr. Candra Wijaya, dr. Ronald Gunawan, dr. Willy Sitompul, Bora Siregar, Ahmad Shams Madyan, dan banyak lagi yang lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Syeikh Hasan  Kinyua Omari banyak mengungkapkan prinsip-prinsip Islam dalam memberikan respon terhadap pandemi HIV AIDS. Menurutnya “Rasulullah SAW pernah menyampaikan pada para shahabatnya untuk menjadi “bintang” dan “pohon kurma” di tengah-tengah masyarakat, terlebih lagi bagaimana seorang Muslim dapat menjadi “bintang” dan “pohon kurma” dalam pandemi HIV AIDS”. Ibarat tersebut begitu dalam maknanya jika kita renungkan.

Beberapa latar belakang tentang menjadi “bintang dan pohon kurma” di masyarakat (Sahih Bukhari dan Muslim).

Bintang adalah sumber untuk mencari arah, panduan bagi kafilah, pengelana dan sebagai sumber cahaya pada malam hari.  Bintang juga digunakan untuk menghitung jumlah hari dan bulan.  Sebagai Muslim kita harus menjadi seseorang yang proaktif dan menjadi orang-orang yang dapat memberikan bimbingan  dan harapan di masa-masa kegelapan.  Kita harus menunjukan belas kasihan dengan tanpa menghakimi dalam nasihat kita seperti bintang yang tidak memilih siapa yang disinari.

 Sebuah pohon kurma memiliki sejumlah besar manfaat untuk masyarakat; memberikan keteduhan, sumber bahan bangunan, makanan, obat dan simbol kesejahteraan.  Demikian juga, sebagai Muslim, kita harus menjadi orang yang menyediakan kenyamanan, menghibur dan menyediakan tempat tinggal, makanan dengan kepedulian, bimbingan dan kehangatan kepada mereka yang paling membutuhkan.  Melalui kasih kita kepada Nabi tercinta kita (SAW) bahwa anjuran untuk menjadi bintang dan pohon kurma menjadi aktivitas alami seperti kita meniru apa yang beliau lakukan, dan memastikan bahwa kita adalah pilar kekuatan dan penerang bagi masyarakat kita.  Nabi Muhammad (SAW) mengatakan kepada kita bahwa, “Kita adalah pembawa dari perbuatan dan pesannya” (Sahih Bukhari).  Demikianlah  peran kita.

 Sebagai seorang Muslim, tujuan hidup kita adalah untuk menyembah Allah SWT, Tuhan di dalam segala aspek hidup kita dan instruksi yang Ilahi tentang bagaimana menyembah Dia, bagaimana kita hidup, bagaimana menjadi manfaat bagi orang lain berasal dari sumber Ilahi – Kitab Suci al-Qur’an.  Hubungan kita dipandu oleh prinsip-prinsip, prinsip-prinsip yang kita patuhi melalui pemahaman dan sebagai seorang pengikut Islam kaffah, kita tidak pernah berkompromi.  Prinsip-prinsip ini untuk semua umat manusia untuk dipatuhi baik oleh orang kaya, miskin, sehat atau sakit, kita diperintahkan untuk menanamkan ajaran-ajaran ini di masyarakat kita.

Pos ini dipublikasikan di News / Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s